BERITAInflasi Global Mengganas: Daya Beli Terancam, Bank Sentral Hadapi Dilema Berat

Inflasi Global Mengganas: Daya Beli Terancam, Bank Sentral Hadapi Dilema Berat

PenulisTim Redaksi
Diterbitkan17 Januari 2026
Inflasi Global Mengganas: Daya Beli Terancam, Bank Sentral Hadapi Dilema Berat

Inflasi global terus menghantui perekonomian dunia, mengancam daya beli masyarakat dan menekan pertumbuhan ekonomi negara-negara di berbagai belahan bumi, termasuk Indonesia. Fenomena kenaikan harga yang persisten ini telah menjadi momok sejak pasca-pandemi COVID-19 dan diperparah oleh konflik geopolitik yang berkepanjangan, terutama invasi Rusia ke Ukraina. Berbagai faktor fundamental seperti gangguan rantai pasok global, lonjakan harga komoditas energi dan pangan, serta sisa-sisa kebijakan moneter akomodatif di masa lalu, secara kolektif mendorong spiral inflasi. Sebagai respons, bank sentral di seluruh dunia telah melancarkan pengetatan moneter yang agresif melalui kenaikan suku bunga acuan, namun dampaknya terhadap stabilitas harga dan prospek ekonomi masih terus dirasakan dan memicu kekhawatiran akan potensi resesi.

Akar permasalahan inflasi global saat ini cukup kompleks dan multifaset. Gangguan rantai pasok menjadi salah satu pemicu utama, di mana kebijakan lockdown ketat di Tiongkok membatasi produksi dan pengiriman barang, sementara perang di Ukraina memicu krisis energi dan pangan global. Harga minyak mentah, gas alam, gandum, dan minyak sawit melonjak tajam, membebani biaya produksi dan transportasi di seluruh sektor. Di sisi permintaan, stimulus fiskal dan moneter besar-besaran selama pandemi telah membanjiri pasar dengan likuiditas, memicu lonjakan permintaan konsumen yang tidak diimbangi oleh kapasitas produksi, sehingga menciptakan tekanan inflasi tambahan. Situasi ini diperparah oleh pasar tenaga kerja yang ketat di banyak negara maju, yang mendorong kenaikan upah dan berpotensi menciptakan spiral harga-upah.

Dampak inflasi global terasa di mana-mana, meskipun dengan intensitas yang bervariasi. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Zona Euro, bank sentral terpaksa menaikkan suku bunga secara drastis ke level tertinggi dalam beberapa dekade untuk mengendalikan inflasi yang mencapai puncaknya. Kebijakan ini, meskipun diperlukan, membawa risiko perlambatan ekonomi yang signifikan dan bahkan resesi. Sementara itu, negara-negara berkembang menghadapi tantangan yang lebih berat, termasuk tekanan depresiasi nilai tukar mata uang lokal terhadap Dolar AS, beban utang luar negeri yang meningkat, dan kemampuan fiskal yang terbatas untuk menyubsidi harga atau memberikan

Bagikan Artikel:

ARTIKEL TERKAIT