BERITARupiah Terus Diuji: Tekanan Global dan Respons Kebijakan Menentukan Arah

Rupiah Terus Diuji: Tekanan Global dan Respons Kebijakan Menentukan Arah

PenulisTim Redaksi
Diterbitkan18 Januari 2026
Rupiah Terus Diuji: Tekanan Global dan Respons Kebijakan Menentukan Arah

Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan utama pasar dan masyarakat Indonesia setelah terus menunjukkan volatilitas signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan ini, yang sempat menyentuh level kritis, bukan hanya dipicu oleh dinamika internal, melainkan juga didorong kuat oleh sentimen global yang tak menentu. Bank Indonesia (BI) dan pemerintah secara konsisten menegaskan komitmen mereka untuk menjaga stabilitas makroekonomi, termasuk melalui intervensi di pasar valuta asing, demi meredam gejolak dan melindungi daya beli masyarakat serta iklim investasi nasional.

Pergerakan nilai tukar rupiah yang fluktuatif ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang masih mempertahankan suku bunga tinggi. Kebijakan ini menjadikan dolar AS semakin menarik sebagai aset safe-haven, memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, ketegangan geopolitik global yang terus berlanjut, terutama di Eropa Timur dan Timur Tengah, serta kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, turut memperkeruh sentimen investor, mendorong mereka beralih ke aset yang lebih aman dan likuid.

Di sisi domestik, meskipun fundamental ekonomi Indonesia relatif solid dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inflasi yang terkendali, tekanan eksternal ini tetap menjadi tantangan serius. Neraca perdagangan Indonesia memang masih mencatat surplus, namun penurunan harga komoditas global tertentu dan peningkatan permintaan impor di tengah pemulihan ekonomi domestik, turut memengaruhi dinamika pasokan dan permintaan valuta asing di pasar. “Kami terus memantau dengan cermat setiap perkembangan, baik global maupun domestik. Bank Indonesia akan selalu hadir di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah melalui triple intervention, baik di pasar spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), maupun pembelian SBN (Surat Berharga Negara) yang dilepas investor asing,” ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam sebuah kesempatan, menegaskan komitmen bank sentral.

Intervensi BI tidak hanya terbatas pada pasar valuta asing, tetapi juga melalui kebijakan suku bunga acuan. Kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate) yang dilakukan secara pre-emptive dan forward-looking bertujuan untuk menahan laju inflasi dan menjaga daya tarik aset rupiah. Langkah ini diharapkan dapat meredam tekanan pelemahan rupiah serta menarik kembali aliran modal asing. Selain itu, pemerintah juga berperan melalui kebijakan fiskal yang prudent, menjaga defisit anggaran tetap terkendali, serta mendorong investasi langsung (FDI) yang lebih stabil dibandingkan investasi portofolio.

Bagikan Artikel:

ARTIKEL TERKAIT