LIFESTYLEMencari Keseimbangan: Urgensi Work-Life Balance di Tengah Dinamika Kerja Indonesia

Mencari Keseimbangan: Urgensi Work-Life Balance di Tengah Dinamika Kerja Indonesia

PenulisTim Redaksi
Diterbitkan18 Januari 2026
Mencari Keseimbangan: Urgensi Work-Life Balance di Tengah Dinamika Kerja Indonesia

Fenomena keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional, atau yang dikenal sebagai work-life balance (WLB), kini menjadi isu krusial yang semakin mendesak di kalangan pekerja Indonesia, seiring dengan perubahan lanskap pekerjaan pascapandemi dan tuntutan era digital. Dari kota-kota besar hingga daerah, diskusi mengenai pentingnya menjaga batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi ini mengemuka karena dampaknya yang signifikan terhadap produktivitas, kesehatan mental, serta kesejahteraan karyawan dan keberlanjutan perusahaan.

Pergeseran paradigma kerja yang didorong oleh kemajuan teknologi dan adaptasi terhadap model kerja hibrida atau jarak jauh telah mengaburkan batas-batas tradisional antara jam kerja dan waktu personal. Banyak pekerja merasa kesulitan untuk ‘mematikan’ mode kerja, terutama dengan notifikasi yang terus masuk di luar jam kantor. Kondisi ini, jika dibiarkan berlarut-larut, berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari stres kronis, kelelahan fisik dan mental (burnout), hingga gangguan tidur dan masalah kesehatan lainnya yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup dan kinerja. Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa tingkat stres di kalangan pekerja Indonesia cukup tinggi, dengan salah satu pemicunya adalah tekanan kerja yang berlebihan dan kurangnya waktu untuk rekreasi atau keluarga.

Dr. Tania Putri, seorang psikolog industri dan organisasi, menyoroti bahwa WLB bukan sekadar kemewahan, melainkan kebutuhan fundamental. “Keseimbangan kerja-hidup yang sehat adalah fondasi bagi produktivitas jangka panjang dan inovasi. Ketika individu merasa dihargai, memiliki waktu untuk pulih, dan dapat mengejar minat di luar pekerjaan, mereka cenderung lebih termotivasi, kreatif, dan setia kepada perusahaan,” jelas Dr. Tania. Ia menambahkan bahwa perusahaan yang mengabaikan aspek ini berisiko menghadapi tingkat turnover karyawan yang tinggi dan kesulitan dalam menarik talenta terbaik.

Menyadari urgensi tersebut, sejumlah perusahaan di Indonesia mulai proaktif menerapkan kebijakan yang mendukung WLB. Inisiatif seperti jam kerja fleksibel, opsi kerja jarak jauh, cuti berbayar yang lebih panjang, program kesehatan dan kebugaran karyawan, serta pelatihan manajemen stres, kini semakin umum ditemukan. PT Maju Bersama, salah satu perusahaan teknologi terkemuka, misalnya, telah menerapkan kebijakan ‘Hari Tanpa Rapat’ setiap Jumat dan membatasi pengiriman email pekerjaan di luar jam kerja. “Kami percaya bahwa karyawan yang bahagia adalah karyawan yang produktif. Dengan memberikan fleksibilitas dan menghormati waktu pribadi mereka, kami melihat peningkatan signifikan dalam kepuasan kerja dan retensi talenta,” ujar Budi Santoso, Direktur Sumber Daya Manusia PT Maju Bersama.

Namun, tantangan dalam mencapai WLB tidak hanya berada di pundak perusahaan. Individu juga memegang peran penting dalam menetapkan batasan pribadi dan mengelola ekspektasi. Kemampuan untuk mengatakan ‘tidak’ pada tugas tambahan yang tidak mendesak di luar jam kerja, memprioritaskan waktu untuk istirahat dan aktivitas personal, serta memanfaatkan teknologi secara bijak, adalah kunci. “Dulu saya sering bekerja sampai larut malam, bahkan saat akhir pekan. Akibatnya, saya sering merasa lelah dan mudah marah. Setelah saya mulai disiplin mematikan notifikasi pekerjaan setelah jam 6 sore dan meluangkan waktu untuk hobi, kualitas tidur saya membaik dan saya merasa lebih berenergi di kantor,” cerita Sarah, seorang manajer proyek berusia 30 tahun di Jakarta.

Pemerintah dan lembaga terkait juga memiliki peran dalam menciptakan ekosistem yang mendukung WLB melalui regulasi ketenagakerjaan yang jelas dan kampanye edukasi. Dengan semakin terintegrasinya kehidupan dan pekerjaan, mencapai keseimbangan yang sehat bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya manusia Indonesia yang produktif, inovatif, dan sejahtera di masa depan.

Bagikan Artikel:

ARTIKEL TERKAIT